Perniagaan Yang Tak Pernah Merugi

Setiap orang dalam kehidupan ini selalu mengharapkan keuntungan dalam berbagai aktifitas termasuk dalam urusan perniagaan, mereka bersungguh-sungguh untuk melakukan berbagai usaha agar perniagaan mendapatkan keuntungann dan terhindar dari kerugian.

Ironisnya, kebanyakan manusia hanya menerapkan hal ini dalam usaha dan urusan yang bersifat duniawi belaka, sedangkan untuk urusan akhirat mereka hanya merasa cukup dengan ‘hasil’ yang pas-pasan dan seadanya. Ini merupakan refleksi dari kuatnya dominasi hawa nafsu dan kecintaan terhadapa dunia dalam diri mereka.

Allah Ta’ala mengisyaratkan keadaan mayoritas manusia ini dalam firman-Nya,

Mereka hanya mengetahui yang lahir (nampak) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. ar-Ruum: 7).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Arti (ayat ini): mayoritas manusia tidak memiliki ilmu pengetahuan kecuali dalam (perkara-perkara yang berkaitan dengan) dunia, keuntungan-keuntungannya, urusan-urusan dan semua hal yang berhubungan dengannya. Mereka sangat mahir dan pandai dalam usaha meraih (keberhasilan) dan cara-cara mengusahakan keuntungan duniawi, sedangkan untuk kemanfaatan (keberuntungan) di negeri akhirat mereka lalai (dan tidak paham sama sekali), seolah-seolah mereka seperti orang bodoh yang tidak punya akal dan pikiran (sama sekali).”[Kitab Tafsir Ibnu Katsir, 3/560]

 

Allah Ta’ala menamakan amalan-amalan shalih, lahir dan batin, yang disyariatkan-Nya untuk mencapai keridhaan-Nya dan meraih balasan kebaikan yang kekal di akhirat nanti sebagai “tijaarah” (perniagaan) dalam banyak ayat al-Qur’an.

 

Ini menunjukkan bahwa orang yang menyibukkan diri dengan hal tersebut berarti dia telah melakukan ‘perniagaan’ bersama Allah Ta’ala, sebagaimana orang yang mengambil bagian terbesar dari perniagaan tersebut maka dialah yang paling berpeluang mendapatkan keuntungan yang besar.

 

Allah Ta’ala berfirman,

 “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di surga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS. ash-Shaff: 10-12).

 

Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala menjadikan amalan-amalan (shalih) tersebut kedudukannya seperti ‘pernia-gaan’, karena orang-orang yang melakukannya akan meraih keuntungan (besar) sebagaimana mereka meraih keuntungan dalam perniagaan (duniawi), keuntungan (besar) itu adalah masuknya mereka ke dalam surga dan selamat dari (siksa) neraka.”[ Kitab Fathul Qadiir, 5/311]

 

Inilah ‘perniagaan’ yang paling agung, karena menghasilkan keuntungan yang paling besar dan kekal abadi selamanya, inilah ‘perniagaan’ yang dengannya akan diraih semua harapan kebaikan dan terhindar dari semua keburukan yang ditakutkan, inilah perniagaan yang jelas lebih mulia dan lebih besar keuntungannya daripada perdagangan duniawi yang dikejar oleh mayoritas manusia.[ Lihat kitab Tafsir Ibnu Katsir, 4/463]

 

Oleh karena itu, Allah Ta’ala menyifati ‘perniagaan’ mulia ini sebagai perniagaan yang pasti beruntung dan tidak akan merugi.

Allah Ta’ala berfirman,

 “Sesungguhnya, orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (al-Qur’an), mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dengan diam-diam maupun terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyem-purnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Faathir: 30).

 

Barang Dagangan/ Perniagaan Allah Ta’ala Adalah Surga

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya barang dagangan Allah sangat mahal, dan ketahuilah bahwa barang dagangan Allah adalah surga.”[ HR. at-Tirmidzi (no. 2450) dan al-Hakim (4/343), dinyatakan shahih oleh Imam al-Hakim dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi, serta dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Ash-Shahiihah, no. 954 dan 2335]

 

Barang dagangan Allah Ta’ala yang mahal dan mulia ini harganya adalah amalan shalih dan berkorban di jalan-Nya, sebagaimana yang Allah Ta’ala isyaratkan dalam firman-Nya,

 “Dan amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabb-mu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. al-Kahfi: 46).

 

Juga dalam firman-Nya,

 

 “Sesungguhnya, Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga (sebagai balasan) untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. at-Taubah: 111)

 

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala mengabarkan (dalam ayat ini), bahwa Dia telah mengganti (membeli) dari hamba-hamba-Nya yang beriman jiwa dan harta mereka yang mereka curahkan di jalan-Nya dengan Surga (sebagai harganya). Ini merupakan (bagian) dari karunia, kebaikan dan kedermawanan-Nya, karena Dia menerima (untuk memberikan) ganti (harga) dari apa yang merupakan milik-Nya, dengan (ganti yang berupa) anugerah yang dilimpahkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang (selalu) taat kepada-Nya. Oleh karena itu, (Imam) Hasan al-Bashri rahimahullah dan Qatadah rahimahullah berkata (tetntang ayat ini), ‘Demi Allah, Dia telah berjual-beli dengan mereka, lalu Dia menjadikan sangat mahal harga (yang mereka terima, yaitu surga).’”[ Kitab Tafsir Ibnu Katsir, 2/515]

 

Allah Ta’ala telah meng-gambarkan kenikmatan surga melalui berbagai macam cara. Terkadang, Allah mengacaukan akal sehat manusia melalui firman-Nya dalam hadits qudsi,

 

“Kusiapkan bagi hamba-hambaKu yang sholih (di dalam surga, -pen), yaitu apa yang tak pernah dilihat mata, tak pernah didengar telinga, dan tak pernah terlintas dalam hati semua manusia”, kemudian Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda: “Bacalah jika kalian mau, ‘Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang’ (QS. As-Sajdah : 17)”[ HR.Bukhari [3244] dari shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu anhu].

 

Di tempat lain, Allah membandingkan kenikmatan surga dengan dunia untuk menjatuhkan dan merendahkannya. Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, “Tempat cemeti di dalam surga lebih baik dari dunia dan seisinya”.[ HR. Bukhari [3250]]

 

Kenikmatan surga juga Allah Ta’ala gambarkan dengan menyebut manusia yang berhasil memasuki surga dan selamat dari adzab neraka, sebagai orang yang beroleh kemenangan yang besar. Sebagaimana Allah Ta’ala firmankan (yang artinya),

“Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar” (QS. An-Nisaa’ : 13)

 

@@@@@@@@@@@@@@

(Sebuah Faedah dari Kajian Kitab Arba’in An Nawawiyah oleh  Ustadz Yahya  Al Barrawy Hafidzahullaah, Malam Jum’at ba’da Isya di Surau Al-Amin Jalan H. Isa II Tanjung Redeb)

 

Disusun oleh seorang hamba yang sangat membutuhkan hidayah dan ampunan Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Abu Abdurrahman Ali Albarrawy

 

. Buletin Risalah Ilmiah Ahlussunnah Edisi : 03

Diterbitkan oleh:

Pustaka Al-Barrawy Ahlussunnah Wal Jama;ah

http://www.albarrawy.wordpress.com

Iklan
Published in: on Februari 14, 2014 at 7:37 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Memakai Pembatas (Sutrah) Ketika Shalat, Sebuah Sunnah Yang Diremehkan

Apabila kita memasuki mesjid baik sebelum dan sesudah shalat berjama’ah dilaksanakan, kita akan akan menyaksikan banyak diantara saudara-saudara kita melaksanakan shalat tanpa menggunakan pembatas (sutroh) didepannya. Ada yang shalat ditengah-tengah bangunan, ada yang shalat pada barisan shaf kedua dan bahkan ada yang shalat didepan pintu mesjid. Walaupun ada pula yang mengerjakan shalat dengan menggunakan pembatas ketika shalat, namun jumlahnya sedikit sekali.. Padahal menggunakan sutrah (pembatas) dilakukan oleh Nabi Shalallaahu Alaihi Wassalam dan Para Sahabat Radiayallaahu ‘anhum ajma’in.

Apa itu sutrah (pembatas),?

Sutrah adalah sesuatu yang dijadikan sebagai penghalang, apa pun bentuk/jenisnya. Sutrah orang yang shalat adalah apa yang ditancapkan dan dipancangkan di hadapannya berupa tongkat atau yang lainnya ketika hendak mendirikan shalat atau sesuatu yang sudah tegak dengan sendirinya yang sudah ada di hadapannya, seperti dinding atau tiang, guna mencegah orang yang hendak berlalu-lalang di depannya saat ia sedang shalat. Sutrah harus ada di hadapan orang yang sedang shalat karena dengan shalatnya berarti ia sedang bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga, bila ada sesuatu yang lewat di hadapannya akan memutus munajat tersebut serta mengganggu hubungan ia dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam shalatnya. Oleh sebab itu, siapa yang sengaja lewat di depan orang shalat, ia telah melakukan dosa yang besar. (Al-Mausu’atul Fiqhiyah, 24/178, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, 2/939, Taudhihul Ahkam, 2/58)

Hukum Sutrah (Pembatas) dalam shalat terjadi perselisihan dikalangan ulama, ada yang berpendapat hukumnya wajib dan ada yang berpendapat hukumnya sunnah. Walapun demikian mereka yang berpendapat hukumnya sunnah tetap menggunakan sutrah ketika mereka melaksanakan shalat sebagai pengagungan sunnah.

Dalil-dalil tentang penggunaan sutrah (pembatas) ketika shalat.

Pertama, Perintah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam

. Dari Ibnu ‘Umar -radhiyallahu ‘anhuma-, dia berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

“Janganlah kalian shalat, kecuali menghadap sutrah dan janganlah kalian membiarkan seorangpun lewat di hadapanmu.” (HR. Muslim)

Dari Sahl bin Abu Hitsmah -radhiyallahu ‘anhu-: Dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-, beliau berkata:

“Jika salah seorang dari kalian shalat menghadap sutrah, hendaklah ia mendekatinya, sehingga syetan tidak memutus atas shalatnya.”[Telah dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam al-Mushannaf (1/ 279), Ahmad di dalam al-Musnad (4/ 2), ath-Thayalisi di dalam al-Musnad no. (379), al-Humaidi di dalam al-Musnad (1/ 196), Abu Dawud di dalam as-Sunan no. (695), an-Nasa`i di dalam al-Mujtaba (2/ 62), Ibnu Khuzaimah di dalam ash-Shahih no. (803), Ibnu Hibban di dalam ash-Shahih (4/ 49), ath-Thahawi dalam Syarhul-Ma’ani al-Atsar (1/ 458), ath-Thabrani di dalam al-Mu’jamul-Kabir (6/ 119), al-Hakim di dalam al-Mustadrak (1/ 251), al-Baihaqi di dalam as-Sunanul Kubra (2/ 272) dan hadits tersebut shahih.]

Dalam satu riwayat:

“Jika salah seorang dari kalian shalat, maka hendaklah dia memakai sutrah dan mendekatinya, karena sesung-guhnya  syetan akan lewat di hadapannya.”[HR. Ibnu Khu-zaimah]

Kedua, Perkataan Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam-

Dari Qurrah bin ‘Iyas, dia berkata: “‘Umar telah melihat saya ketika saya sedang shalat di antara dua tiang, maka dia memegangi tengkuk saya, lalu mendekatkan saya kepada sutrah. Maka dia berkata: “Shalatlah engkau dengan menghadap kepadanya.””[ Telah dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya (1/ 577-dengan al-Fath) secara ta’liq dengan Shighah Jazm dan di-washalkannya oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (2/ 370).]

Dari Ibnu ‘Umar, dia berkata: “Jika salah seorang dari kalian shalat, hendaklah dia shalat menghadap ke sutrah dan mendekatinya, supaya syetan tidak lewat di depannya.”[Telah dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam al-Mushannaf (1/ 279) dengan sanad yang shahih.]

Ibnu Mas’ud berkata: “Empat perkara dari perkara yang sia-sia: “Seseorang shalat tidak menghadap ke sutrah… atau dia mendengar orang yang adzan, tetapi dia tidak memberikan jawaban.”[ Telah dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam al-Mushannaf (2/ 61), al-Baihaqi dalam as-Sunanul Kubra (2/ 285) dan dia shahih.]

Ukuran Sutrah (pembatas) dalam Shalat adalah setinggi pelana.

Dan dalilnya dari Thalhah, dia berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

“Jika salah seorang dari kalian telah meletakkan tiang setinggi pelana di hadapannya, maka hendaklah ia shalat dan janganlah ia memperdulikan orang yang ada di belakangnya.”[ Telah dikeluarkan oleh Muslim dalam Shahih-nya no. (499)]

Dari ‘A`isyah -radhiyallahu ‘anha-, dia berkata: “Pada waktu perang Tabuk Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- ditanya tentang sutrahnya orang yang shalat, maka beliau menjawab: “Tiang setinggi pelana.””[ Telah dikeluarkan oleh Muslim di dalam Shahih-nya no. (500)]

Dan dari Abu Dzar, dia berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

“Jika salah seorang dari kalian berdiri melakukan shalat, maka sesungguhnya dia telah tertutupi jika di hadapannya ada tiang setinggi pelana. Jika tidak ada tiang setinggi pelana di hadapannya, maka shalatnya akan diputus oleh keledai atau perempuan atau anjing hitam.”[ Telah dikeluarkan oleh Muslim di dalam Shahih-nya no. (510)]

Ibnu Khuzaimah berkata: “Dalil dari pengabaran Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- tersebut, bahwa sesungguhnya yang beliau inginkan dengan sutrah seperti pelana adalah panjangnya bukan lebarnya, yang tegak lagi kokoh. Di antaranya terdapat riwayat dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-, bahwa beliau menancapkan tombak kecil untuknya, lalu beliau shalat menghadap kepadanya. Padahal lebarnya tombak itu kecil tidak seperti lebarnya pelana.”[ Shahih Ibnu Khuzaimah (2/ 12)]

Dia berkata juga: “Perintah Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- membuat sutrah (pembatas) dengan anak panah di dalam shalat, maka hal itu sesuatu yang nyata dan tetap, bahwa beliau -shallallahu ‘alaihi wasallam- menginginkan dalam perintah tersebut adalah sesuatu yang ukuran panjangnya sama seperti pelana, bukan panjang dan lebarnya secara keseluruhan.”

Sutrah (Pembatas) Ketika Shalat dalam keadaan sebagai imam dan shalat sendirian sedangkan kalau dia menjadi makmum maka tidak wajib menggunakan sutrah dan tidak mengapa ia membiarkan orang lewat didepannya.

Al-Imam Malik berkata: “Seseorang yang menyelesaikan shalatnya setelah imam salam tidak mengapa dia menuju ke salah satu tiang yang terdekat dengannya, baik yang ada di depan, sebelah kanan, sebelah kiri ataupun di belakangnya. Dengan mundur ke belakang sedikit, dia menjadikannya sebagai pembatas (sutrah), jika tiang itu dekat. Jika jauh, maka dia tetap berdiri di tempat semula, dan menolak orang yang lewat semampunya.”[ Syarah az-Zarqaani ‘ala Mukhtashar Khalil (1/ 208).]
Ibnu Rusyd berkata: “Jika dia berdiri untuk menyelesaikan raka’at shalatnya yang terputus, jika dia dekat dengan tiang, berjalanlah menuju kepadanya dan itu menjadi sutrah baginya untuk raka’at yang tersisa. Jika tidak ada tiang yang dekat, maka dia shalat sebagaimana keadaannya dan berusaha menolak orang yang lewat di depannya semampunya dan barangsiapa yang lewat di depannya, maka dia berdosa. Adapun orang yang lewat di antara shaf-shafnya kaum yang shalat bersama imam, maka tidak ada dosa baginya dalam hal ini, karena imam adalah sutrah untuk mereka. Hanya pada Allahlah taufik tersebut.”[ Fatawa Ibnu Rusyd (2/ 904)]

Saudaraku yang dimuliakan Allah, berdasarkan dalil-dalil diatas telah jelas bagi kita bahwa shalat menggunakan pembatas merupakan sunnah yang dilakukan oleh Nabi Shalallaahu Alaihi Wassalam dan Para Sahabat Radiayallaahu ‘anhum ajma’in yang banyak diremehkan oleh kaum muslimin.

Mudah-mudahan kita diberi hidayah oleh untuk melaksanakan sunnah ini walaupun sunnah ini dianggap aneh dan ditinggalkan orang banyak.

 

@@@@@@@@@@

 

Disusun oleh seorang hamba yang sangat membutuhkan hidayah dan ampunan Allah Subhanahu Wa Ta’ala

 

Abu Abdurrahman Ali Albarrawy

 

 

. Buletin Risalah Ilmiah Ahlussunnah Edisi : 02

Diterbitkan oleh:

Pustaka Al-Barrawy Ahlussunnah Wal Jama;ah

http://www.albarrawy.wordpress.com

Published in: on Februari 14, 2014 at 7:15 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Tauhid, Kunci Keselamatan Seorang Hamba

Sebuah kenikmatan yang tiada taranya apabila seorang hamba diberi hidayah untuk bertauhid kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sungguh betapa bahagianya seorang hamba apabila selama hidupnya didunia hingga ajal menjemputnya terbebas dari perbuatan syirik. Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan kabar gembira kepada hambaNya yang bertauhid dengan kenikmatan Surga.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa bertemu Allah dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu (apapun), niscaya dia akan masuk jannah.” (H.R. Muslim)

Namun sayangnya banyak diantara umat islam menganggap dakwah untuk mengajak untuk bertauhid dan menjauhi kesyirikan dianggap tidak penting. Baik dari kalangan orang biasa maupun para pendakwah. Bahkan mereka mengatakan dakwah tauhid adalah pemecah belah umat dan lain-lain.

Mereka menganggap dakwah menjauhi maksiat lebih penting dan lebih disukai oleh umat. Makanya tema-tema yang mengajak untuk mengerjakan sholat jama’ah, menjauhi zina, minuman keras, judi dan maksiat lainnya laris manis ditengah uimat.

Walaupun demikian bukan berarti dalam mendakwah tauhid kepada umat, dakwah menjauhi maksiat itu tidak penting, bahkan dakwah menjauhi maksiat itu sangatlah penting, sekali lagi sangatlah penting. Tidak mungkin orang bertauhid kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala justeru mengerjakan maksiat. Bahkan keutamaan tauhid seseorang dibuktikan dengan ketaatan dan menjauhi maksiat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh umat, bahwa tauhid dan menjauhi kesyirikan merupakan prioritas utama, antara lain:

Pertama, Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan mengampuni dosa  syirik.

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman::

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, tetapi Dia mengampuni segala dosa yang selain (syirik) itu bagi siapa saja yang Dia kehendaki.” [An-Nisâ`: 48, 116].

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, pasti Allah mengharamkan surga kepadanya, dan tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada seorang penolong pun bagi orang-orang zhalim itu.” [Al-Mâ`idah: 72]

Saudaraku yang dimuliakan Allah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, perhatikan peringatan dan ancaman dalam ayat tersebut, Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan mengampuni dosa syirik apabila selama hidup didunia mengerjakan kesyirikan dan tidak sempat bertaubat sampai ajal menjemputnya. Kemudian dalam lanjutan ayat tersebut, bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang dikehendakiNya. Dosa-dosa maksiat yang dilakukan oleh seorang hamba selama hidupnya yang bukan kesyirikan dan kekufuran saat hidup didunia ini masih ada kemungkinan akan mendapat pengampunan apabila Allah Subhanahu Wa Ta’ala menghendakinya.

Kedua, Amalan pelaku kesyirikan, walaupun sangat banyak dan menggunung, pada hari kiamat tidaklah dianggap sama sekali bila bercampur dengan noda kesyirikan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menegaskan,

“Dan Kami menghadapi segala amalan yang mereka kerjakan, lalu Kami menjadikan amalan itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” [Al-Furqân: 23]

Saudaraku yang dimuliakan Allah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Kita beribadah dan mengerjakan amal shaleh dengan harapan agar amalan tersebut diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai bekal di akhirat kelak. Namun betapa ruginya kita ternyata amalan yang kita kerjakan tersebut ternyata tidak bernilai bagaikan debu yang beterbangan dikarenakan menger-jakan perbuatan syrik.

Jangankan kita, Para Nabi dan Rasulpun diancam oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan dihapukan amalan-amalan mereka apabila mengerjakan perbuatan syirik

 Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman kepada NabiNya:

 “Dan sesungguhnya, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu, ‘Jika engkau berbuat kesyirikan, niscaya akan terhapuslah seluruh amalanmu dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang merugi.’Oleh karena itu, hendaklah kepada Allah saja engkau menyembah dan hendaklah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur.” [Az-Zumar: 65-66]

Ketiga, kesyirikan adalah sebab kebinasaan terbesar.

 Rasulullah shallallâhu ‘alaihi “Hindarilah tujuh yang membinasakan.” Ditanyakan kepada beliau, “Wahai Rasululläh, apa (tujuh hal) itu?” Beliau menjawab, “(1) Berbuat kesyirikan terhadap Allah, (2) melakukan sihir, (3) membunuh jiwa yang Allah haramkan, kecuali dengan haq, (4) memakan harta anak yatim, (5) memakan riba, (6) lari pada hari perjumpaan dengan musuh, dan (7) menuduh perempuan mukminah, yang menjaga diri lagi tidak kenal maksiat, dengan perbuatan zina.”.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu]

Keempat, Syirik adalah sebab kehinaan dan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:  

“Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahannya) kelak akan tertimpa kemurkaan dari Rabb mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami membalas orang-orang yang membuat-buat kebohongan.” [Al-A’râf: 152]

Kelima, kesyirikan adalah sebab munculnya rasa takut dan hilangnya keamanan pada manusia, masyarakat, bangsa, dan negara.

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

 “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezhaliman (kesyirikan), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat hidayah.” [Al-An’âm: 82]

Keenam, kesyirikan adalah sebab terangkatnya kemuliaan, kejayaan, dan pertolongan Allah dari umat Islam.

Allah Al-‘Azîz Al-Hakîm berfirman,

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman, di antara kalian, dan beramal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan berkuasa orang-orang yang sebelum mereka, sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan, menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada berbuat kesyirikan sesuatu apapun terhadap-Ku. Namun, barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, mereka itulah orang-orang fasik.” [An-Nûr: 55]

Ketujuh, Allah Subhânahu wa Ta’âlâ  mengharamkan surga bagi pelaku kesyirikan

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

 “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, pasti Allah mengharamkan surga kepadanya, dan tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada seorang penolong pun bagi orang-orang zhalim itu.” [Al-Mâ`idah: 72]

Saudaraku yang dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, masih banyak dalil dari Al-Qur’an dan Assunnah tentang keutamaan tauhid dan menjauhi kesyirikan yang tidak dapat kami tampilkan karena keterbatasan media ini. Mudah-mudahan ini bermanfaat dan semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan hidayah kepada kita agar tetap diatas tauhid dan terbebas dari kesyirikan hingga ajal menjemput kita. Amiin.

@@@@@@@@@@@@

 Disusun oleh seorang hamba yang sangat membutuhkan hidayah dan ampunan Allah Subhanahu Wa Ta’ala

 Abu Abdurrahman Ali Albarrawy


 

Buletin Risalah Ilmiah Ahlussunnah edisi ; 01

Diterbitkan oleh:

Pustaka Al-Barrawy Ahlussunnah Wal Jama;ah

http://www.albarrawy.wordpress.com

Published in: on Februari 14, 2014 at 6:55 am  Tinggalkan sebuah Komentar