Memakai Pembatas (Sutrah) Ketika Shalat, Sebuah Sunnah Yang Diremehkan

Apabila kita memasuki mesjid baik sebelum dan sesudah shalat berjama’ah dilaksanakan, kita akan akan menyaksikan banyak diantara saudara-saudara kita melaksanakan shalat tanpa menggunakan pembatas (sutroh) didepannya. Ada yang shalat ditengah-tengah bangunan, ada yang shalat pada barisan shaf kedua dan bahkan ada yang shalat didepan pintu mesjid. Walaupun ada pula yang mengerjakan shalat dengan menggunakan pembatas ketika shalat, namun jumlahnya sedikit sekali.. Padahal menggunakan sutrah (pembatas) dilakukan oleh Nabi Shalallaahu Alaihi Wassalam dan Para Sahabat Radiayallaahu ‘anhum ajma’in.

Apa itu sutrah (pembatas),?

Sutrah adalah sesuatu yang dijadikan sebagai penghalang, apa pun bentuk/jenisnya. Sutrah orang yang shalat adalah apa yang ditancapkan dan dipancangkan di hadapannya berupa tongkat atau yang lainnya ketika hendak mendirikan shalat atau sesuatu yang sudah tegak dengan sendirinya yang sudah ada di hadapannya, seperti dinding atau tiang, guna mencegah orang yang hendak berlalu-lalang di depannya saat ia sedang shalat. Sutrah harus ada di hadapan orang yang sedang shalat karena dengan shalatnya berarti ia sedang bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga, bila ada sesuatu yang lewat di hadapannya akan memutus munajat tersebut serta mengganggu hubungan ia dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam shalatnya. Oleh sebab itu, siapa yang sengaja lewat di depan orang shalat, ia telah melakukan dosa yang besar. (Al-Mausu’atul Fiqhiyah, 24/178, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, 2/939, Taudhihul Ahkam, 2/58)

Hukum Sutrah (Pembatas) dalam shalat terjadi perselisihan dikalangan ulama, ada yang berpendapat hukumnya wajib dan ada yang berpendapat hukumnya sunnah. Walapun demikian mereka yang berpendapat hukumnya sunnah tetap menggunakan sutrah ketika mereka melaksanakan shalat sebagai pengagungan sunnah.

Dalil-dalil tentang penggunaan sutrah (pembatas) ketika shalat.

Pertama, Perintah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam

. Dari Ibnu ‘Umar -radhiyallahu ‘anhuma-, dia berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

“Janganlah kalian shalat, kecuali menghadap sutrah dan janganlah kalian membiarkan seorangpun lewat di hadapanmu.” (HR. Muslim)

Dari Sahl bin Abu Hitsmah -radhiyallahu ‘anhu-: Dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-, beliau berkata:

“Jika salah seorang dari kalian shalat menghadap sutrah, hendaklah ia mendekatinya, sehingga syetan tidak memutus atas shalatnya.”[Telah dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam al-Mushannaf (1/ 279), Ahmad di dalam al-Musnad (4/ 2), ath-Thayalisi di dalam al-Musnad no. (379), al-Humaidi di dalam al-Musnad (1/ 196), Abu Dawud di dalam as-Sunan no. (695), an-Nasa`i di dalam al-Mujtaba (2/ 62), Ibnu Khuzaimah di dalam ash-Shahih no. (803), Ibnu Hibban di dalam ash-Shahih (4/ 49), ath-Thahawi dalam Syarhul-Ma’ani al-Atsar (1/ 458), ath-Thabrani di dalam al-Mu’jamul-Kabir (6/ 119), al-Hakim di dalam al-Mustadrak (1/ 251), al-Baihaqi di dalam as-Sunanul Kubra (2/ 272) dan hadits tersebut shahih.]

Dalam satu riwayat:

“Jika salah seorang dari kalian shalat, maka hendaklah dia memakai sutrah dan mendekatinya, karena sesung-guhnya  syetan akan lewat di hadapannya.”[HR. Ibnu Khu-zaimah]

Kedua, Perkataan Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam-

Dari Qurrah bin ‘Iyas, dia berkata: “‘Umar telah melihat saya ketika saya sedang shalat di antara dua tiang, maka dia memegangi tengkuk saya, lalu mendekatkan saya kepada sutrah. Maka dia berkata: “Shalatlah engkau dengan menghadap kepadanya.””[ Telah dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya (1/ 577-dengan al-Fath) secara ta’liq dengan Shighah Jazm dan di-washalkannya oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (2/ 370).]

Dari Ibnu ‘Umar, dia berkata: “Jika salah seorang dari kalian shalat, hendaklah dia shalat menghadap ke sutrah dan mendekatinya, supaya syetan tidak lewat di depannya.”[Telah dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam al-Mushannaf (1/ 279) dengan sanad yang shahih.]

Ibnu Mas’ud berkata: “Empat perkara dari perkara yang sia-sia: “Seseorang shalat tidak menghadap ke sutrah… atau dia mendengar orang yang adzan, tetapi dia tidak memberikan jawaban.”[ Telah dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam al-Mushannaf (2/ 61), al-Baihaqi dalam as-Sunanul Kubra (2/ 285) dan dia shahih.]

Ukuran Sutrah (pembatas) dalam Shalat adalah setinggi pelana.

Dan dalilnya dari Thalhah, dia berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

“Jika salah seorang dari kalian telah meletakkan tiang setinggi pelana di hadapannya, maka hendaklah ia shalat dan janganlah ia memperdulikan orang yang ada di belakangnya.”[ Telah dikeluarkan oleh Muslim dalam Shahih-nya no. (499)]

Dari ‘A`isyah -radhiyallahu ‘anha-, dia berkata: “Pada waktu perang Tabuk Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- ditanya tentang sutrahnya orang yang shalat, maka beliau menjawab: “Tiang setinggi pelana.””[ Telah dikeluarkan oleh Muslim di dalam Shahih-nya no. (500)]

Dan dari Abu Dzar, dia berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

“Jika salah seorang dari kalian berdiri melakukan shalat, maka sesungguhnya dia telah tertutupi jika di hadapannya ada tiang setinggi pelana. Jika tidak ada tiang setinggi pelana di hadapannya, maka shalatnya akan diputus oleh keledai atau perempuan atau anjing hitam.”[ Telah dikeluarkan oleh Muslim di dalam Shahih-nya no. (510)]

Ibnu Khuzaimah berkata: “Dalil dari pengabaran Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- tersebut, bahwa sesungguhnya yang beliau inginkan dengan sutrah seperti pelana adalah panjangnya bukan lebarnya, yang tegak lagi kokoh. Di antaranya terdapat riwayat dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-, bahwa beliau menancapkan tombak kecil untuknya, lalu beliau shalat menghadap kepadanya. Padahal lebarnya tombak itu kecil tidak seperti lebarnya pelana.”[ Shahih Ibnu Khuzaimah (2/ 12)]

Dia berkata juga: “Perintah Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- membuat sutrah (pembatas) dengan anak panah di dalam shalat, maka hal itu sesuatu yang nyata dan tetap, bahwa beliau -shallallahu ‘alaihi wasallam- menginginkan dalam perintah tersebut adalah sesuatu yang ukuran panjangnya sama seperti pelana, bukan panjang dan lebarnya secara keseluruhan.”

Sutrah (Pembatas) Ketika Shalat dalam keadaan sebagai imam dan shalat sendirian sedangkan kalau dia menjadi makmum maka tidak wajib menggunakan sutrah dan tidak mengapa ia membiarkan orang lewat didepannya.

Al-Imam Malik berkata: “Seseorang yang menyelesaikan shalatnya setelah imam salam tidak mengapa dia menuju ke salah satu tiang yang terdekat dengannya, baik yang ada di depan, sebelah kanan, sebelah kiri ataupun di belakangnya. Dengan mundur ke belakang sedikit, dia menjadikannya sebagai pembatas (sutrah), jika tiang itu dekat. Jika jauh, maka dia tetap berdiri di tempat semula, dan menolak orang yang lewat semampunya.”[ Syarah az-Zarqaani ‘ala Mukhtashar Khalil (1/ 208).]
Ibnu Rusyd berkata: “Jika dia berdiri untuk menyelesaikan raka’at shalatnya yang terputus, jika dia dekat dengan tiang, berjalanlah menuju kepadanya dan itu menjadi sutrah baginya untuk raka’at yang tersisa. Jika tidak ada tiang yang dekat, maka dia shalat sebagaimana keadaannya dan berusaha menolak orang yang lewat di depannya semampunya dan barangsiapa yang lewat di depannya, maka dia berdosa. Adapun orang yang lewat di antara shaf-shafnya kaum yang shalat bersama imam, maka tidak ada dosa baginya dalam hal ini, karena imam adalah sutrah untuk mereka. Hanya pada Allahlah taufik tersebut.”[ Fatawa Ibnu Rusyd (2/ 904)]

Saudaraku yang dimuliakan Allah, berdasarkan dalil-dalil diatas telah jelas bagi kita bahwa shalat menggunakan pembatas merupakan sunnah yang dilakukan oleh Nabi Shalallaahu Alaihi Wassalam dan Para Sahabat Radiayallaahu ‘anhum ajma’in yang banyak diremehkan oleh kaum muslimin.

Mudah-mudahan kita diberi hidayah oleh untuk melaksanakan sunnah ini walaupun sunnah ini dianggap aneh dan ditinggalkan orang banyak.

 

@@@@@@@@@@

 

Disusun oleh seorang hamba yang sangat membutuhkan hidayah dan ampunan Allah Subhanahu Wa Ta’ala

 

Abu Abdurrahman Ali Albarrawy

 

 

. Buletin Risalah Ilmiah Ahlussunnah Edisi : 02

Diterbitkan oleh:

Pustaka Al-Barrawy Ahlussunnah Wal Jama;ah

http://www.albarrawy.wordpress.com

Iklan
Published in: on Februari 14, 2014 at 7:15 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://albarrawy.wordpress.com/2014/02/14/memakai-pembatas-sutrah-ketika-shalat-sebuah-sunnah-yang-diremehkan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: