Tauhid, Kunci Keselamatan Seorang Hamba

Sebuah kenikmatan yang tiada taranya apabila seorang hamba diberi hidayah untuk bertauhid kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sungguh betapa bahagianya seorang hamba apabila selama hidupnya didunia hingga ajal menjemputnya terbebas dari perbuatan syirik. Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan kabar gembira kepada hambaNya yang bertauhid dengan kenikmatan Surga.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa bertemu Allah dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu (apapun), niscaya dia akan masuk jannah.” (H.R. Muslim)

Namun sayangnya banyak diantara umat islam menganggap dakwah untuk mengajak untuk bertauhid dan menjauhi kesyirikan dianggap tidak penting. Baik dari kalangan orang biasa maupun para pendakwah. Bahkan mereka mengatakan dakwah tauhid adalah pemecah belah umat dan lain-lain.

Mereka menganggap dakwah menjauhi maksiat lebih penting dan lebih disukai oleh umat. Makanya tema-tema yang mengajak untuk mengerjakan sholat jama’ah, menjauhi zina, minuman keras, judi dan maksiat lainnya laris manis ditengah uimat.

Walaupun demikian bukan berarti dalam mendakwah tauhid kepada umat, dakwah menjauhi maksiat itu tidak penting, bahkan dakwah menjauhi maksiat itu sangatlah penting, sekali lagi sangatlah penting. Tidak mungkin orang bertauhid kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala justeru mengerjakan maksiat. Bahkan keutamaan tauhid seseorang dibuktikan dengan ketaatan dan menjauhi maksiat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh umat, bahwa tauhid dan menjauhi kesyirikan merupakan prioritas utama, antara lain:

Pertama, Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan mengampuni dosa  syirik.

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman::

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, tetapi Dia mengampuni segala dosa yang selain (syirik) itu bagi siapa saja yang Dia kehendaki.” [An-Nisâ`: 48, 116].

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, pasti Allah mengharamkan surga kepadanya, dan tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada seorang penolong pun bagi orang-orang zhalim itu.” [Al-Mâ`idah: 72]

Saudaraku yang dimuliakan Allah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, perhatikan peringatan dan ancaman dalam ayat tersebut, Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan mengampuni dosa syirik apabila selama hidup didunia mengerjakan kesyirikan dan tidak sempat bertaubat sampai ajal menjemputnya. Kemudian dalam lanjutan ayat tersebut, bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang dikehendakiNya. Dosa-dosa maksiat yang dilakukan oleh seorang hamba selama hidupnya yang bukan kesyirikan dan kekufuran saat hidup didunia ini masih ada kemungkinan akan mendapat pengampunan apabila Allah Subhanahu Wa Ta’ala menghendakinya.

Kedua, Amalan pelaku kesyirikan, walaupun sangat banyak dan menggunung, pada hari kiamat tidaklah dianggap sama sekali bila bercampur dengan noda kesyirikan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menegaskan,

“Dan Kami menghadapi segala amalan yang mereka kerjakan, lalu Kami menjadikan amalan itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” [Al-Furqân: 23]

Saudaraku yang dimuliakan Allah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Kita beribadah dan mengerjakan amal shaleh dengan harapan agar amalan tersebut diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai bekal di akhirat kelak. Namun betapa ruginya kita ternyata amalan yang kita kerjakan tersebut ternyata tidak bernilai bagaikan debu yang beterbangan dikarenakan menger-jakan perbuatan syrik.

Jangankan kita, Para Nabi dan Rasulpun diancam oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan dihapukan amalan-amalan mereka apabila mengerjakan perbuatan syirik

 Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman kepada NabiNya:

 “Dan sesungguhnya, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu, ‘Jika engkau berbuat kesyirikan, niscaya akan terhapuslah seluruh amalanmu dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang merugi.’Oleh karena itu, hendaklah kepada Allah saja engkau menyembah dan hendaklah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur.” [Az-Zumar: 65-66]

Ketiga, kesyirikan adalah sebab kebinasaan terbesar.

 Rasulullah shallallâhu ‘alaihi “Hindarilah tujuh yang membinasakan.” Ditanyakan kepada beliau, “Wahai Rasululläh, apa (tujuh hal) itu?” Beliau menjawab, “(1) Berbuat kesyirikan terhadap Allah, (2) melakukan sihir, (3) membunuh jiwa yang Allah haramkan, kecuali dengan haq, (4) memakan harta anak yatim, (5) memakan riba, (6) lari pada hari perjumpaan dengan musuh, dan (7) menuduh perempuan mukminah, yang menjaga diri lagi tidak kenal maksiat, dengan perbuatan zina.”.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu]

Keempat, Syirik adalah sebab kehinaan dan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:  

“Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahannya) kelak akan tertimpa kemurkaan dari Rabb mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami membalas orang-orang yang membuat-buat kebohongan.” [Al-A’râf: 152]

Kelima, kesyirikan adalah sebab munculnya rasa takut dan hilangnya keamanan pada manusia, masyarakat, bangsa, dan negara.

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

 “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezhaliman (kesyirikan), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat hidayah.” [Al-An’âm: 82]

Keenam, kesyirikan adalah sebab terangkatnya kemuliaan, kejayaan, dan pertolongan Allah dari umat Islam.

Allah Al-‘Azîz Al-Hakîm berfirman,

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman, di antara kalian, dan beramal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan berkuasa orang-orang yang sebelum mereka, sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan, menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada berbuat kesyirikan sesuatu apapun terhadap-Ku. Namun, barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, mereka itulah orang-orang fasik.” [An-Nûr: 55]

Ketujuh, Allah Subhânahu wa Ta’âlâ  mengharamkan surga bagi pelaku kesyirikan

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

 “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, pasti Allah mengharamkan surga kepadanya, dan tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada seorang penolong pun bagi orang-orang zhalim itu.” [Al-Mâ`idah: 72]

Saudaraku yang dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, masih banyak dalil dari Al-Qur’an dan Assunnah tentang keutamaan tauhid dan menjauhi kesyirikan yang tidak dapat kami tampilkan karena keterbatasan media ini. Mudah-mudahan ini bermanfaat dan semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan hidayah kepada kita agar tetap diatas tauhid dan terbebas dari kesyirikan hingga ajal menjemput kita. Amiin.

@@@@@@@@@@@@

 Disusun oleh seorang hamba yang sangat membutuhkan hidayah dan ampunan Allah Subhanahu Wa Ta’ala

 Abu Abdurrahman Ali Albarrawy


 

Buletin Risalah Ilmiah Ahlussunnah edisi ; 01

Diterbitkan oleh:

Pustaka Al-Barrawy Ahlussunnah Wal Jama;ah

http://www.albarrawy.wordpress.com

Iklan
Published in: on Februari 14, 2014 at 6:55 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://albarrawy.wordpress.com/2014/02/14/tauhid-kunci-keselamatan-seorang-hamba/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: